Bos kecil meong adalah seekor rubah jantan yang lumayan sering meong gosipin ke temen-temen meong akhir-akhir ini. Buat meong bos kecil itu menarik karena dia rubah dewasa yang penuh perhitungan dan pinter tapi suka kayak anak kecil; suka pamer, bercandanya jodoh-jodohan, suka ngeremehin orang, suka cerita, suka sok-sok jagoan, suka menang dan sebel kalo kalah, dan lain-lain. Pinter dan kekanak-kanakan itu kalo dikombinasiin jadi licik-licik bandel gitu. Ya itulah bos kecil meong.
Buat beberapa pihak bos kecil itu nyebelin banget. Meong ngerti kenapa ada yang sampe sebel banget sama dia. Temen meong, Nyanya, udah ngga keruan ngga betahnya sama si bos kecil. Padahal nyanya itu setengah rubah loh... masih sedarah sama bos kecil. Meong sendiri ngga begitu respect sama sikap bos kecil yang suka ngeremehin orang. Mungkin meong udah terlalu sering ketemu orang yang hebat tapi ngga 'tinggiin diri sendiri'. Ngga tau lah.
Tapi dalam hal kerjaan, bos kecil ini ngebantu banget. Pemikirannya out of the box dan solutif. Dia bener-bener punya sesuatu yang bisa disombongin. Dan menurut meong selama sesuatu yang disombongin itu ada, eksis, yaudah suka-suka yang punya deh mau dipamerin kayak apa sesuatu itu.
Kadang meong sebel kalo dia udah ngejudge orang sesuai standar dan pengalaman dia. Kayak pengen bilang "yaudah sih bos, dunia ngga sesempit hidup bos". Tapi ngga jarang loh bos kecil punya pemikiran yang menarik.
Kayak hari ini, dia berpendapat tentang perempuan berkerudung. Dia bukan muslim, tapi ajaran agamanya sendiri pun ngga semua dia terapkan di kehidupan sehari-harinya. Dia semacam penganut agama liberal yang berpendapat bahwa aturan agama itu ada sesuai konteks historis dan kulturnya. Hal itu yang harusnya bisa dikritisi penganutnya. Nah, buat dia kerudung itu adalah pelecehan buat perempuan. Dari satu kalimat itu aja meong langsung pengen denger cerita si bos kecil (kayak yang meong bilang, bos kecil suka banget cerita. Kadang meong bisa loh denger dia cerita seharian. Kadang kalo meong bosen meong sok-sok nanya aja ke dia. Tau-tau udah waktunya pulang. Hehehee....).
Dia berangkat dari pemahaman bahwa baju-baju tertutup diwajibkan karena sejarahnya pada jaman dahulu di Arab - tempat pertama berkembangnya agama Islam - ngga ada sarana transportasi selain unta. Sedangkan daerah di sana itu daerah padang pasir yang panas. Kalau ngga pake pakaian tertutup kulit pasti terbakar. Makanya pakaiannya tebal dan tertutup. Terus perempuan pakai baju tertutup sampai pake cadar, kenapa? Karena pinternya laki-laki. Laki-laki mau istrinya tetep cantik, kulitnya ngga hitam dan kusam, makanya disuruh pake baju tertutup dan cadar. Terus tertutupnya tubuh perempuan memberi pride tersendiri bagi suaminya sebagai satu-satunya laki-laki bukan muhrim yang bisa "menikmati" tubuh perempuan. Dia menyamakan hal itu dengan aturan sosial lama di China dimana perempuan dianggap cantik kalau langkah kakinya kecil-kecil. Sebenarnya hal itu muncul karena di masa peperangan banyak istri yang ditinggal suaminya perang. Agar istri tidak berselingkuh, maka disosialisasikanlah standar cantik perempuan China itu. Sehingga untuk berjalan ke rumah tetangga aja akan capek dan meminimalisir kemungkinan berselingkuh.
Meong ini tipe penganut bodoh ya. Sekali percaya Dewa ya meong percaya aja aturan main Dewa itu adalah aturan hidup yang terbaik buat meong. Toh meong masih sering bandel-bandel dan hasilnya suka jelek. Namanya kepercayaan itu mainannya hati, mau dikritisi kayak apa juga ngga akan nimbulin rasionalitas. Yang ada cuma munculin kepercayaan baru... ya kepercayaan rasional itu contohnya. Jadi pemikiran bos kecil itu jelas bukan sesuatu yang bisa meong sepakati sih pemikirannya. Tapi meong geli dengernya. Si bos kecil itu laki-laki, tapi dia sendiri sensitif sama praktek patriarki.
Meong sempet geli sih pengen nanya si bos kecil tentang standar ideal perempuan China yang konservatif itu... kalo emang perempuannya ngga bisa kemana-mana, kenapa ngga cowo selingkuhannya aja yang nyamperin? Hihihiii... tapi tadi ngga sempet nanya, keburu udahan dan meong disuruh ngerjain tugas lagi.
Kayak si hitam manis yang pernah ngomongin tentang move on, tentang gimana kita bisa milih untuk ga move on. Kayak gitu juga yang meong rasain ke pemikiran si bos kecil ini. Bukan pemikiran yang meong sepakati, tapi meong akui bahwa itu pemikiran yang menarik. Dan meong sama sekali ngga terprovokasi untuk menentangnya.
Tapi dibanding bos kecil, si hitam manis jauh lebih menarik tentunya ;)