CERITAKU

kucing dan kodok (4) Proyek 10 Terfavorit (1)
Tampilkan postingan dengan label kucing dan kodok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kucing dan kodok. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 Februari 2014

Cerita Kodok

Kodok dan Kucing tiba di persimpangan jalan. Kodok melihat jalan di sebelah kiri sementara kucing melihat jalan disebelah kanan.

"Ke sebelah kiri saja" kata kodok.
"Ke kiri saja yuk" kata kucing berbarengan dengan kodok tadi. Kodok agak terkejut mendengar pilihan kucing. Kodok tahu tadi kucing melihat ke kanan, tapi entah mengapa memilih ke kiri.

Sambil berjalan ke kiri kodok bertanya pada kucing "kenapa kamu memilih ke kiri? Tadi kan kamu melihat jalanan di sebelah kanan?". Kucing menjawab ringan, "karena kamu ada di sebelah kiriku, dok".

Kodok berhenti sejenak sementara kucing masih berjalan riang. Benak kodok langsung melesat ke masa lalu ketika ia masih bersama sahabatnya, si bebek. Bebek adalah sahabat pertama kodok. Mereka berteman sejak kodok masih menjadi kecebong. Kodok kecil yang penakut selalu dilindungi oleh bebek.

Kodok selalu kagum pada bebek. Bebek memiliki bulu yang bersih dan bersinar, tidak kalah dengan angsa. Kodok yang masih kecebong awalnya minder pada bebek, tapi bebek berkata "kalau kamu dewasa kamu akan berubah. Kamu akan bermetamorfosis seperti kupu-kupu". Kecebong senang sekali mendengar ucapan bebek. Ia tahu seperti apa kupu-kupu. Ia tahu betapa cantiknya kupu-kupu. Kecebong tidak sabar ingin terbang, karena bebek pun setelah dewasa nanti akan terbang. Mereka bisa terbang bersama. Ah, bayangan yang menyenangkan.

Tapi setelah dewasa kecebong tidak berubah menjadi kupu-kupu. Ia menjadi kodok. Ia tidak bisa terbang, hanya bisa melompat. Kodok sedih bukan kepalang. Harapannya pupus sudah. Tapi meskipun kodok bukan kupu-kupu, bebek tetap berteman dengan kodok. "Bebek berteman sama kodok karena bebek sayang kodok, bukan karena bebek ingin kodok mau jadi kupu-kupu". Akhirnya mereka pun tetap berteman dan bermain di rawa mereka seperti biasa.

Suatu hari tiba masa dimana bebek dan rombongannya harus terbang. Terbang jauh meninggalkan rawa. Kodok sedih bukan kepalang. Meskipun kodok tahu, tapi ketika saat itu datang ternyata rasanya tetap sedih.

"Bebek ngga bisa ngga ikut terbang?"
"Ngga bisa kodok, bebek harus ikut terbang". Kodok melihat bebek yang terus-terusan mengadah melihat ke langit. Siap untuk terbang bersama teman-temannya. Kodok sedih karena tidak dipilih. Kodok sedih karena tidak siap meskipun tahu tidak akan dipilih. Tapi akhirnya kodok memahami satu hal, seberapa pun besarnya persiapan kita, kita tidak akan bisa benar-benar siap untuk berpisah. Itulah kenapa kita terus menanamkan harapan-harapan tentang "suatu saat pasti bertemu lagi".

Bebek mengucapkan salam perpisahan pada kodok. Saat bebek terbang kodok melompat-lompat. Ia melompat sekuat tenaga, berharap ada keajaiban yang membuatnya jadi kupu-kupu dan menyusul bebek. Tapi tidak bisa. Kodok tetap jadi kodok.

Bebek menjalani jalannya. Mungkin kodok pun juga harus mencari dan menjalani jalannya. Saat itulah kodok mulai memutuskan untuk meninggalkan rawa dan bertualang.


"Kodok kenapa diam?" Tanya kucing yang berbalik. Ia sudah cukup jauh di depan kodok ketika kodok masih melamun sejenak. Kodok tersenyum dan melompat menghampiri kucing. Suatu saat kodok pun akan berpisah dengan kucing. Tapi saat ini adalah saat dimana mereka memilih jalan yang sama. Dan kodok akan menikmati saat-saat ini.

Rabu, 08 Mei 2013

Cerita Kucing 2

"Lalu sekarang ikan dimana?" Tanya kodok pada kucing.

"Oh, dia baik-baik saja. Dia tetap berada di dalam akuarium dekat jendela dan majikannya merawatnya dengan baik." Jawab kucing.

"Kenapa kamu tidak mengajaknya berpetualang bersama?" Tanya kodok lagi. Si kucing mengumbar cengirannya.



Sejak kucing dan ikan berteman, kucing sering menghampiri ikan. Kucing senang menceritakan pengalamannya sedangkan ikan gemar mendengarkan. Kucing bercerita banyak hal dari yang bisa diingat ikan. Tak jarang kucing mengulang ceritanya dan ikan tak sadar kalau cerita itu pernah ia dengar sebelumnya. Mereka bersenang-senang selama berminggu-minggu.

Suatu hari kucing ingin belajar berenang biar bisa bersama ikan dalam akuarium itu.
Ikan menolak, "Akuarium ini tak cukup untuk kita berdua, lagian kalau dilihat majikanku kamu akan diusir" katanya.

"Tapi aku ingin agar kita bisa bersama! Pasti menyenangkan! Setelah itu kita bisa bertualang bersama!" Seru kucing bersemangat. Ikan tersenyum pada kucing. Tergoda pada tawaran persahabatan yang begitu kuat, ikan mengijinkan kucing untuk belajar berenang. Kucing membenamkan kepalanya ke akuarium dan mencoba mendorong tubuhnya ke dalam situ. Akan tetapi kucing mengalami kesulitan. Tubuhnya kebesaran untuk akuarium itu. Kini, perutnya tersangkut di mulut akuarium dengan keadaan kepala berada di dalam air. Napasnya makin sesak, ia menggeliat-geliat. Ikan panik dan ketakutan. Teman baiknya sekarat! Tiba-tiba...

"KYAAAAA!! KUCING NAKAL!!! MENJAUH DARI IKANKUUUUUU!!!" Seru seorang manusia yang sayup-sayup terdengar. Sesaat setelah suara itu muncul, kucing merasa tubuhnya dipukuli sebuah batang kayu tumpul. Beberapa pukulan membuat kucing mampu mengeluarkan tubuh bagian atasnya dari akuarium ikan. Sedikit tersedak air, ia berusaha kabur dari sang majikan ikan yang sedari tadi memukulnya dengan tongkat kasti. Kucing berlari secepat mungkin menjauhi ikan dan majikannya.

Keesokan harinya, jendela dekat akuarium ikan ditutup. Kucing mendekatinya dan mencongkel-congkel jendela itu. Untungnya jendela tidak terkunci sehingga kucing berhasil membukanya. Ikan sangat terkejut melihat kucing.

"Halo! Aku mau berpetualang, kamu mau ikut?" Kata kucing dengan sangat ceria, seolah kemarin tidak ada kejadian apa-apa. Ikan lega karena kucing masih ingin mengunjunginya, tapi mendengar ajakan kucing tadi membuat ikan tersenyum lemah.

"Kurasa itu bukan ide yang baik. Bagaimana caranya menggerakkan akuarium ini keluar dan berjalan tanpa memecahkannya?" Kata ikan.

Kucing berpikir. Akhirnya ia sepakat dengan ikan.

"Yah, toh di sini kamu punya majikan yang amat menyayangi kamu" ucap kucing sambil nyengir.

"Aku minta maaf karena kemarin majikanku memukulmu.." Ikan mengungkapkan penyesalannya.

"Aku yang minta maaf karena memaksa untuk belajar berenang di akuariummu! Si majikan pasti sangat khawatir melihatnya. Berani taruhan, ia pikir pasti aku ingin memakanmu! Ahahahaaa..."

"Terimakasih karena ingin belajar berenang." Ikan tersenyum pada kucing. Itu adalah kalimat terakhir yang ikan ucapkan pada kucing. Setelah itu kucing berjalan sendiri, sampai akhirnya bertemu kodok.



Begitulah kisah kucing dan ikan yang diceritakan oleh kucing dengan senang dan bangga. Kucing suka sekali dengan ikan karena ikan telah menjadi sahabatnya.

"Sebenarnya aku bingung kenapa ikan berterima kasih padaku karena aku belajar berenang. Padahal kan gara-gara itu aku dan ikan jadi dimarahi majikannya." Curhat kucing pada kodok. Kodok mengangkat bahu.

"Eh, kucing..." Kodok sepertinya ingin menyampaikan pertanyaan pada kucing.

"Yap?"

"Daripada kamu belajar berenang, kenapa kamu tidak menyuruh ikan berjalan saja waktu itu?" Pertanyaan kodok ini membuat kucing berpikir keras. Beberapa menit kemudian kucing tertawa keras sekali...

"Iya yah?! Kenapa tidak kusuruh dia berjalan saja ya?!" Seru kucing penuh keterkejutan dan ketakjuban. Lucu juga karena dulu dia tidak kepikiran ide itu.

"Ikan itu lemah ya?"

"Tidak kok, hanya saja dia cuma mampu mengingat sedikit hal..."

"Punya kaki?"

"Tidak. Oh! Mungkin itu sebabnya aku tidak menyuruhnya..........." Dan suara kodok-kucing semakin menjauh, seiring dengan semakin jauhnya kaki mereka membawa diri mereka ke tempat yang mereka tuju; entah dimana tempat itu ;)

Cerita Kucing 1

Kodok melompat diikuti kucing dan cerita-ceritanya sepanjang perjalanan mereka. Kodok sangat senang dengan cerita-cerita kucing. Perjalanan mereka menuju "Belum Kutentukan" ternyata sangat paaaaaaanjaaaaaaaaang. Cerita kucing membuat perjalanan itu menjadi ringan. Kucing sering membuatnya tertawa. Kadang tertawa biasa, tapi ada juga yang sampai membuat kodok tertawa terbahak-bahak.

Kucing ternyata memiliki banyaaaak sekali pengalaman. Sepertinya dia sudah keliling dunia berkali-kali dan bertemu jutaan makhluk. Dia pernah bertemu burung merpati yang sedang berduaan, anjing galak terantai yang terus menggonggong, tikus dan keluarganya yang banyak dan terorganisir, lalat yang mencoba merebut makanannya, kupu-kupu yang sangat angkuh sebelum kucing membuka rahasia dari masa lalunya dan lain sebagainya. Tapi cerita paling berkesan adalah cerita kucing saat berteman dengan ikan dalam akuarium dekat jendela.

Suatu hari kucing melihat seekor ikan mas koki. Ikan itu sendirian, berenang-renang bingung di dalam sebuah akuarium bundar yang diletakkan di dekat jendela. Kucing tergoda untuk mengajaknya bermain.

"Halo!" Sapa kucing.

"Hai..! Wah, kaget! Siapa yah?" Jawab si ikan.

"Aku kucing. Kamu siapa? Kenapa kamu bisa didalam air?? Mau kukeluarkan?" Kucing langsung mencecar ikan dengan pertanyaan bertubi-tubi. Dia tak bisa menyembunyikan ketertarikannya.

"Aku ikan... JANGAN KELUARKAN AKU! Kalau aku keluar aku bisa mati!" Ikan itu langsung melotot panik saat kucing bersiap memasukkan kaku depannya ke dalam akuarium untuk mengeluarkan ikan.

"Darimana kamu tahu? Memang kamu pernah coba?"

"Sering. Dua minggu sekali akuariumku dibersihkan. Tiap akuarium ini dibersihkan aku harus keluar. Tapi tak lama. Aku dipindahkan ke ember berisi air juga. Tiap kali keluar dari air aku tak bisa bernapas. Napasku membaik tiap aku kembali berada di dalam air..." Ikan mencoba menjelaskan pada kucing.

"Ohya? Makhluk aneh! Aku sih justru akan mati kalau hidup seperti kamu. Hahahaa!!" Kucing makin merasa tertarik pada ikan. Bagi kucing dia berbeda, dan berbeda itu menarik!

"Aku tau. Aku sering liat yang seperti kamu, bernapas di udara. Majikanku juga bernapas di udara."

"Seingatku malah kamu satu2nya hewan yang bernapas di air!"

Ikan menghela napas. Gelembung2 udara keluar dari tubuhnya, "Ah, benar. Mungkin itulah mengapa aku merasa kesepian..."

"Kamu tau? Aku pernah bertemu kupu-kupu yang sangat senang karena merasa menjadi satu-satunya hewan yang cantik. Harusnya kamu juga senang menjadi satu-satunya hewan yang bisa bernapas di air!"

"Jadi satu-satunya itu artinya kita cuma sendirian... Apa yg menyenangkan dari menjadi sendirian?"

"Ng... Ngga juga. Satu-satunya berarti spesial loh..."

"Dan sendirian."

"Kalo kamu sendirian, aku ini apa dong?" Si kucing nyengir. Ikan melihatnya dan tersadar, daritadi dia tidak merasa kesepian.

Jadi, mulai dari saat itu kucing berteman dengan ikan dalam akuarium di dekat jendela.

Kodok dan kucing

Rawa itu sepi sejak bebek pergi meninggalkan teman satu2nya disana, kodok. Kodok pun bingung, tidak tahu apa yang harus dilakukan. Setelah lama bingung, ia memutuskan untuk pergi dari rawa juga.

Dalam perjalanan kodok bertemu kucing. Kucing sangat bingung melihat kodok. Kodok merasa terancam, seketika itu juga kucing bersiap menerkamnya dengan cakar2. Kodok melompat menghindar ketakutan. Kucing pun terlihat makin heran.

"Kamu kenapa lompat-lompat? Ribet banget! Coba berjalan saja yg lebih mudah", kata kucing pada kodok. Sekarang gantian kodok yang heran. Kucing coba mencontohkan dan kodok perlahan mengikuti. Berkali-kali kodok mencoba, tapi dia tidak bisa berjalan.

"Aku melompat saja..." Kata kodok sopan.

"Oh, oke. Aku bingung saja kenapa ada yang mau melakukan hal sulit seperti melompat padahal ada hal yg lebih mudah seperti berjalan. Apa pahamu tidak pegal?" Si kucing menanggapi.


"Pahaku tidak pegal, justru sakit saat mencoba berjalan tadi" jawab kodok.

"Benarkah? Aneh..."

Kodok melihat kucing. Kucing dengan mudah berjalan. Kodok melihat dirinya. Dia dengan mudah melompat.

"Iya aneh, kenapa satu hal bisa menjadi sangat mudah bagi satu orang tapi jadi sangat sulit untuk yang lain?" Kodok bertanya-tanya.

"Yasudahlah... Kamu siapa dan mau kemana?" Tanya kucing.

"Aku kodok, mau kemana? Ng... Belum kutentukan..." Jawab kodok sedikit ragu.

"Aku kucing, dan berhubung kamu terlihat menyenangkan aku ikut kamu saja. Ayo bersama kita menuju 'Belum Kutentukan' itu!! ^0^" ucap kucing riang. Kodok pun senang.