Selasa, 19 Maret 2013

Dia Untukku - Sebuah Cerpen

Dia Untukku...

Aku adalah anak tunggal yang kehilangan ibu di usia 18 dan kehilangan ayah di usia 20. Aku ngga mungkin bilang aku terbiasa hidup sendiri karena... well, I am not. I just can say, I can manage. Aku punya beberapa teman dan tentu saja karirku yang bisa dibilang cukup sukses sehingga aku bisa bilang bahwa hidupku ngga mengecewakan-mengecewakan amat. Hanya saja ada masa-masa dimana aku tahu aku akan sendiri seperti saat mau pulang kerumah, saat tengah malam, dan pagi setelah bangun tidur. Rasanya menebak kalau kita akan sendiri dan ternyata bener itu ngga seasik nebak kartu yang tertutup dan ternyata bener ya...

Aku pria yang sangat mandiri. Sepuluh tahun sejak ayah pergi aku bekerja keras untuk menyelesaikan kuliahku dan hidup di atas kaki sendiri. Tidak pernah sekalipun aku meneriman bantuan dari keluarga besarku. Aku ngga tahu pasti apa yang kupikirkan saat itu, hanya saja aku merasa bahwa bersantai saat memulai hal yang berat bukanlah sesuatu yang benar. Aku bangga pada keputusanku saat itu, karena sekarang aku jadi orang yang mandiri dan sukses. Kalau ayah dan ibu masih ada, aku yakin mereka juga bangga padaku.

Lalu dia datang. Dia yang memiliki aura super aneh, yang membuatku ngga habis pikir. Di minggu-minggu pertama dia bekerja dia seriiiiing sekali bertanya padaku tentang pekerjaannya, tentang apa yang harus dia lakukan. Sebenarnya aku sempat bingung, bagaimana dia bisa di-hire di perusahaan kita sih?! Tapi dia tidak begitu buruk, setidaknya aku tahu kemampuannya dalam mencari informasi itu cukup baik karena entah bagaimana caranya dia berhasil mengetahui nomor ponselku dan malamku tidak pernah sedamai saat sebelum dia datang. Bahkan aku bukan manager bagiannya, tapi kenapa anak ini selalu meminta bantuan dan bertanya padaku? dan sebenarnya yang lebih aneh lagi adalah kenapa juga aku meresponnya? Bahwa sebesar apapun gangguannya, aku ngga bisa berhenti membantunya. Bahkan di telepon dia bisa mengeluarkan aura persuasif yang bikin aku sama sekali ngga mikirin betapa mengganggunya dia dan betapa ribetnya aku untuk mengurusi satu anak itu. Saat itu aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi kalau dipikir-pikir mungkin saat itu aku sedang menikmati rasanya menebak bahwa aku akan sendiri dan ternyata aku salah.

Tahu-tahu kita menjadi sahabat. Dia adalah sahabat pertama untukku. Ya, pertama setelah 30 tahun, jadi kurasa dia harus bangga karena dia cukup spesial dalam hidupku...... yang harusnya juga membuat aku sadar betapa menyedihkannya hidupku. Dia menjadi seseorang yang membuatku mengerti apa rasanya memiliki satu nama yang pasti kuingat saat aku lagi sedih, marah ataupun senang. Bukan mauku begitu, tapi kurasa wajar kalau kita mengingat nama seseorang yang selalu ada saat kita butuhkan, misalnya saat butuh bantuan untuk mendekati perempuan yang ditaksir, saat sendiri dan sedang patah hati, saat butuh ide untuk proyek kerja, dan lain-lain. Dia selalu punya ide untuk melakukan hal-hal yang menyenangkan. Bahkan ke mall untuk nonton saja bisa jadi hal yang seru, karena habis nonton kita akan duduk di suatu kafe atau restoran dan berdiskusi panjang lebar tentang film tersebut. Dan maksudku panjang lebar benar-benar panjang dan lebar dimana kita melibatkan teori-teori atau menghubungkannya dengan film lain sehingga kadang kita harus "diusir" karena mall sudah mau tutup. Melewatkan satu hari tanpa mengobrol dengannya adalah hal aneh bagiku. Aku rasa mengobrol dengannya sudah seperti ritual harian. Semacam setiap hari ada saja hal yang ingin kubicarakan dengannya, atau sebaliknya. Dan karena itulah aku sadar, aku memiliki sahabat. Dia.

Semakin lama dia semakin berarti lebih. Mungkin aku gila, tapi kadang aku merasa dia seperti ibuku. Awalnya kupikir aku harus selalu bersikap dewasa karena dia sangat mengandalkanku. Tapi ada masa dimana aku sakit atau patah hati, dan dia merawatku dengan penuh keibuan, dan aku merasa sangat nyaman untuk bermanja kepadanya. Dia tidak akan marah kalau aku bersikap sedikit bandel dan dia sangat bangga saat aku berhasil melakukan sesuatu. Dan saat aku sakit dia pernah meninabobokkanku, suaranya seperti suara ibu. Aku rasa saat itu aku tidur sambil tersenyum. Kadang dia seperti kakakku, biar aku jauh lebih tua darinya, tapi aku merasa dia memiliki lebih banyak pengalaman tentang hidup dan perempuan di banding aku...... ya, pengalaman dia hidup sebagai perempuan juga sudah 22 tahun sih ya jadi mau bagaimana lagi. Tapi kadang dia itu adalah adikku, khususnya dalam bidang pekerjaan. Itu ranahku jadi aku seperti kakak yang bisa diandalkan untuk membantunya berlatih atau membuat apapun yang berhubungan dengan pekerjaannya. pernah suatu weekend harus kuhabiskan untuk membuatkannya proposal dan slideshow presentasi, sementara dia sibuk membuat roti gulung untuk camilan. 

Begitulah aku dan dia. Aku rasa bersamanya aku tidak pernah merasa kesepian. Aku baru sadar hal itu setelah kejadian 2 minggu terburuk dalam 11 tahun terakhir, dimana aku memutuskan persahabatanku dengannya karena satu dan lain hal setelah satu tahun kita mengalami banyak hal bersama. Rasanya belum pernah aku merasa sekesepian itu. Aku ingat waktu aku kehilangan ibu, saat itu aku masih punya ayah. Aku ingat waktu aku kehilangan ayah, saat itu aku masih punya mimpi dan semangat. Tapi saat aku kehilangan dia, aku merasa keluargaku hilang. Begitu juga mimpi dan semangatku.

Saat aku tahu bahwa dia sangat membutuhkanku, dan saat aku tahu aku juga sangat membutuhkan dia, aku tidak mau membiarkan rasa saling butuh itu berlarut-larut dalam sesuatu yang......... tidak begitu menyenangkan. Dia masih ada, aku masih punya kesempatan, aku rasa dia berhak mendapatkan usahaku yang terbaik. Dan meskipun tidak semua usaha terbaik mendapatkan hasil yang diharapkan, aku rasa aku disentuh keberuntungan sehingga aku mendapatkan apa yang kuharapkan. Dia adalah sahabatku, ibuku, adikku, kakakku..... dan sekarang calon istriku. Dia duniaku, keluarga yang akhirnya kutemukan.


***

 Dia Untukku...

Pertama aku lihat dia aku sudah suka padanya. Pemuda berusia matang tapi berwajah polos dengan senyum manis dan badan yang tinggi tegap. Perempuan aneh mana yang ngga suka dia? Entah karena ketertarikanku padanya atau karena manager divisiku sangat galak, aku selalu diam-diam menghubunginya untuk bertanya dan meminta bantuan dalam mengerjakan pekerjaannku. Padahal dia itu GM loh... pertamanya kupikir aku akan dimarahi atau dilaporkan ke manager divisiku, tapi ternyata ngga! Dia terlalu baik, pada akhirnya dia selalu membantuku. Dia tahu aku sebegitu butuh bantuannya pada masa itu karena itu saat pertama aku bekerja di suatu perusahaan dan memang banyak hal yang tidak aku mengerti, bahkan sama sekali tidak kumengerti. Dia tulus membantuku tanpa berpikir bahwa aku menyebalkan atau berusaha mendekatinya atau pikiran-pikiran negatif lainnya.

Hubungan kami pun berkembang sejak aku membantunya memberi ide dan mengerjakan salah satu proyek kerjanya yang berakhir sangat sukses itu. Interaksi kami menjadi lebih seimbang dimana dia juga lebih sering berkonsultasi padaku sementara aku tetap tidak berhenti menggerecokinya dengan keribetan dan infinite of shit happen dalam hidupku. Kadang kita juga berdiskusi tentang sesuatu, misalnya bagaimana caranya membuat lampu hias. kadang juga kita berdebat tentang sesuatu, seperti bagaimana seharusnya suatu film berakhir. Mungkin hal paling manis yang bisa aku ceritakan tentang dia adalah saat dia berteman dengan kita, dia tulus melihat kita sebagai orang yang membuatnya nyaman. Dia tidak pernah melihat fisik atau status seseorang. Aku jarang melihatnya bergaul dengan teman-teman yang berstatus sama dengannya dan lebih sering melihatnya bergaul, ehm, bersamaku simply karena aku dan dia memiliki definisi yang sama untuk konsep "bermain". Bermain untuk kami bukan bersenang-senang di club, atau pesta di pantai, atau bersosialisasi tapi lebih kepada 'eksperimen'.

Aku dan dia sering pergi bareng setiap weekend. Aku selalu suka jalan-jalan tapi aku ngga pernah punya teman jalan. Sejak ada dia aku jadi sering jalan-jalan. Tiap weekend  biasanya kita ke museum, ragunan, puncak, mall, keliling Jakarta, keliling Bandung, ke.... oke, ngga ada biasanya di weekend kita. Kita selalu melakukan hal yang lain dari weekend sebelumnya. Kalaupun kita ngga kemana-mana, ya kita pasti melakukan sesuatu di rumahnya, entah sekedar nonton DVD atau membuat kerajinan tangan entah itu frame foto, lampu hias, tempat file, tempat DVD, rak buku, dan lain-lain. Nonton DVD adalah salah satu acara favoritku. Dia punya TV sebesar layar bioskop dan sound system muahal di rumahnya, tapi yang seru itu sebenarnya pas persiapan nontonnya. Saat itu saat dimana kita sok-sokan jadi koki dan bereksperimen membuat camilan untuk nonton yang kadang enak kadang yah, begitulah.

Aku selalu bilang ke diriku sendiri, he's out of my league. Ngga peduli berapa juta kali dia bilang betapa kikuknya dia kalau lagi ngomong sama perempuan (padahal dia ngga pernah kikuk ngobrol sama aku) atau betapa perempuan-perempuan cantik yang dia taksir itu bukan levelnya, dia tetap laki-laki yang memiliki status dan fisik yang oke. dan seperti normalnya laki-laki, betapapun ngga pedenya mereka sama perempuan cantik, mereka ngga pernah berhenti jatuh hati sama perempuan-perempuan cantik. Aku rasa menikahi perempuan cantik adalah mimpi abadinya. Semua perempuan yang dia taksir selalu cantik dan dia selalu... selalu gagal mendapatkan perempuan yang dia suka. Untuk hal ini aku ngga begitu ngerti kenapa. Dalam prosesnya hubungannya dengan perempuan-perempuan itu selalu terlihat baik-baik saja, para perempuan-perempuan itu juga ngga bodoh-bodoh amat untuk menolak dia, tapi selalu saja ada yang membuatnya gagal tepat di saat selangkah sebelum ia berhasil mendapatkan perempuan yang dia taksir. 

Aku sempat berada dalam tahap dimana meskipun aku suka dia, tapi aku sangat bahagia menjadi temannya dan tulus menjadi sahabatnya. Kalau dipikir-pikir, itu bahkan bukan kedudukan yang bisa kudapatkan dalam dunia nyata yang seharusnya. Baginya aku adalah orang pertama yang harus dia ceritakan tentang apa yang terjadi padanya, orang yang harus dia lindungi, tempat dia keluar dari kedewasaannya. Siapa sangka kan? Dia pria yang sangat bagus, sangat baik, sangat... sempurna. Dan dia bahkan ngga sadar dia sudah ada di titik dimana dia mampu membuat laki-laki lain dari berbagai usia iri padanya dengan berbagai alasan.  Kalau boleh jujur, menjadi sahabatnya adalah hal yang paling mendekati mimpi bagiku. Tanpa sadar, tahu-tahu aku merasakan bahwa mimpi itu menjadi kenyataan.

Tapi dia juga bisa menjadi penghancur mimpi. Tepat saat aku memutuskan untuk membuka diri agar dapat menerima laki-laki lain yang kalau aku lompat sedikit then he's in my league, dia menjauh. Dia tidak ada waktu mendengarkan ceritaku atau memberi saran padaku atau membantuku atau apalah itu. Yang menyebalkan adalah dia menjauh dengan memakai kedudukannya sebagai atasan untuk menghindariku. Tiba-tiba dia sibuk inilah, sibu itulah, mengingatkan pekerjaankulah. Sampai akhirnya ada kesempatan untuk ktia berbicara dan dia mengucapkan kalimat itu, "Mulai sekarang kita bukan sahabat lagi".

Aku pernah patah hati karena laki-laki, tapi aku kaget bahwa hatiku bisa sepatah saat itu, saat aku kehilangan sahabatku. Ya, kebetulan dia laki-laki, tapi saat itu gender bukan menjadi isu buatku. Yang membuatku sedih bukanlah penolakan dari orang yang kuharapkan bisa menerimaku, tapi penolakan dari orang yang kupercaya bisa menerimaku. Maka aku pun kembali menutup diri. Kalau sahabatku menolakku maka semua orang bisa menolakku saat mereka bisa. Aku menjalankan hari-hariku dengan perasaan kosong. Kusibukkan diriku dengan pekerjaan, saat tidak bekerja aku berolahraga hingga kelelahan dan akhirnya tertidur. Aku mendapatkan pelajaranku, tidak seharusnya aku berhubungan dengan orang kelas atas seperti dia. Meskipun hanya sebagai sahabat. Tidak seharusnya aku memimpikannya, mengharapkan hal mewah seperti bersahabat dengannya. Hubungan dengan orang seperti dia, apapun itu, ngga akan awet. Dan saat hubungan itu berkahir aku hanya akan merasa seperti sampah.

Lalu tiba-tiba entah kenapa dia datang lagi ke kehidupanku. Mencoba menjadi sahabatku lagi. Awalnya kupikir Yeah, right... aku tidak akan membiarkan diriku tertipu mimpi lagi!

Tapi dia... selalu terlihat sungguh-sungguh. Selalu... selalu berusaha... Aku ngga tahu sudah berapa lama hal ini terjadi. Sudah berapa hari dia berusaha, dan seberapa besar usahanya yang sudah kulihat... seiring dengan berjalannya waktu aku pun makin meragu. Aku sempat kesal pada diriku sendiri, lalu aku kesal padanya karena membuatku ragu-ragu. Kenapa dia menanamkan lagi mimpi yang sudah kubuang jauh-jauh? Saat dia meminta maafku, dan saat aku melihat kesungguhannya, aku merasa rusak. Aku tidak tahu lagi apa yang harus kupercaya. Yang mana yang benar-benar bisa membuatku bahagia? Kenapa dia melakukan ini? Apa yang harus kulakukan?

Aku tidak tahu apa yang kupilih ini benar atau salah pada saat itu. Hanya saja saat aku 'rusak' aku melihat wajahnya, aku merasakan genggaman tangannya, dan ada sesuatu di matanya yang tidak berhenti berusaha 'memperbaiki' aku. Tanpa sadar aku mempercayakannya untuk 'memperbaiki'ku. Aku sangat kaget pada besarnya kepercayaanku padanya. Begitu besarnya harapan yang kutaruh di pundaknya, serta sebegitu dalamnya perasaanku padanya.

meskipun status kita sekarang sudah sedikit berubah, tapi aku tetap merasa bahwa dia adalah sahabat terbaikku. Dia adalah pria pertama yang bisa membuatku nyaman saat kita berdua saja. Dia selalu ada untukku dan secara ajaib membuatku selalu ada untuknya. Dia adalah orang yang secara alami memiliki kemampuan untuk selalu membuatku bahagia.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar