Minggu, 25 Agustus 2013

Bangku di Pinggir Danau

Aku berjalan menuju tempat itu. Satu-satunya tempat yg kuingat tiap sesak, tiap ingin menyendiri. Aneh, padahal pertama dan terakhir kali aku berada di tempat itu aku merasa kosong, lega malah.

Tempat itu bangku di pinggir danau. Sering ramai, tapi pada masa tertentu sepi. Termasuk pada masa aku putus dengan mantanku setelah lama berstatus menggantung. Tidak tahu kenapa tiap merasa ingin sendiri aku ingin ke tempat itu. Tapi biasanya tempat itu ramai. Sehingga aku hanya bisa kecewa melihat bangku di pinggir danau dari jauh sambil berkata dalam hati "itu bukan tempatku untuk sekarang".

Biasanya aku langsung mengingatkan diriku untuk tidak ke bangku pinggir danau tiap kuingin, karena percuma. Tapi tidak saat ini. Tanpa berpikir aku berjalan ke sana.

Disana aku bertemu dia. Seorang kenalan jauh yang juga sedang menyendiri. Dia patah hati, aku tahu. Aku dengar kabarnya. Bangku pinggir danau sedang sepi, mungkin dia tidak sengaja menemukannya dan memutuskan mampir. Aku tidak ingin mengganggunya, tapi aku sudah terlalu dekat dengan bangku pinggir danau sehingga tidak sempat mundur menjauh pergi saat dia menengok ke arahku. Dia tampak kaget. Tentu saja. Aku pun canggung.

"Hai..." Dia tidak membalas sapaan canggungku.
"Mungkin lo ngga tau tapi......" Aku tidak tau harus bicara apa
".....that's my spot" kataku sambil mengikuti ucapan salah satu tokoh di serial favoritku. Aku tertawa untuk mencairkan suasana, tapi dia terlihat mengerutkan kening.
"Well, gue rasa lo juga butuh tempat ini... Sendirian... So, gw cabut dulu. Bye!" Aku melambai salah tingkah dan berbalik badan siap berlari sekencang-kencangnya.

"Hey..." Dia memanggilku. Aku pun membalikkan badanku.
"Ngga apa-apa kok kalo lo mau duduk di sini. Gue ngga keberatan sharing" katanya. Aku tersenyum tak enak dan menerima tawarannya dengan berkata "trims".

Aku duduk di sebelahnya dengan jarak yang cukup besar. Aku ingin memastikan bahwa aku tidak mengganggunya dan kesendiriannya. Ia membelakangiku sambil menunduk dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Aku pun menikmati kesendirianku dan membelakanginya. Aku duduk sambil memeluk kakiku erat-erat, mencoba menenangkan diri dari sesak dan mengeluarkan emosiku setenang mungkin. Tangisku susah dibendung, kulepaskan tanpa senggukan. Tapi satu tarikan napasku mengganggu kesendiriannya.

"Lo ngga apa-apa?" Tanyanya. Buru-buru kuhapus air mataku.
"Ng...ga.. Gapapa... Sori sori... Aduuuhhh..."
"Lo kesini mau nangis?" Aku diam mendengar pertanyaannya. Mungkin sebaiknya aku mengaku saja.
"Hahaha... Iya, mau numpang nangis. Cupu ya?"
"Ada masalah?"
"Hmm... Ada......"
"....yaitu...? Mau cerita mungkin? Gue rasa gue udah ngga bisa untuk ngga mau tau nih soalnya... " Aku melihatnya sebentar, berpikir, dan memutuskan untuk cerita.
"Yang ada masalah itu bukan gue. Tapi orang yang gue sayang. Hehehee..."
"Yang ada masalah orang lain, tapi lo yang sedih?" Aku tersenyum geli mendengarnya. Lalu aku menggeleng.
"Orang yang gue sayang, bukan orang lain."
"Oh.... Kenapa orang yang lo sayang itu?"
"Hemmm... Dia lagi sedih. Gue sedih liat dia sedih. Tapi yang bikin gue makin sedih itu gue ngga bisa ngelakuin apa-apa untuk bikin orang itu ngerasa lebih baik." Ini pertama kalinya aku dan dia duduk berdua dan mengobrol tanpa basa-basi. Aku bahkan mencurahkan isi hatiku padanya, suatu kejadian yang tidak pernah kusangka bisa terjadi.

"Lo ngga cupu sih menurut gue, karena gue ke sini pun untuk alasan yang sama. Hahaha" katanya. Aku mendengarkan. Dia melihatku dan memutuskan untuk melanjutkan ceritanya.

"Gue ke sini juga karena orang yang gue sayang." Dia berhenti. Aku berpikir apa yang sebaiknya ku lakukan, apa aku harus mengaku bahwa aku tahu apa yang terjadi antara dia dan perempuan itu, atau aku harus pura-pura bodoh dan membiarkannya cerita padaku.

"...Orang yang lo sayang lagi sedih?" Dan aku memilih untuk pura-pura bodoh.

"I lost her" dia kembali membenamkan wajahnya di kedua telapak tangannya yang panjang.
"Gue kehilangan orang yang gue sayang. Dia jatoh ke tangan cowo lain dan gue ngga bisa ngelakuin apa-apa. Gue ngga peka, gue ngga jaga dia baik-baik, dan akhirnya kecolongan sama orang yg lebih bisa ngehargain dia. It's so....." Dia bingung, memikirkan kata apa yang tepat untuk menggambarkan perasaannya. Aku menatapnya dalam-dalam. Dia tidak sadar, masih sibuk mencari kata.

"...frustrating" kataku. Dia melihatku dengan pandangan kaget. Aku sedikit bingung dengan apa yang terjadi setelah itu, tapi sebelum aku sadar ia menyenderkan kepalanya ke bahuku dan berbisik, "Ya... Frustrating."

Aku diam, tidak melakukan apa-apa. Aku tidak mengusap kepalanya seperti yang ingin sekali aku lakukan. Aku hanya membiarkannya menangis sejenak di bahuku.

Setelah beberapa isakan kecil dia tertawa kecil, mungkin merasa baru melakukan hal yang konyol. Entahlah. Dia mengusap air matanya dalam tunduk, lalu menegakkan kepala sambil berkata, "Hahaha, orang yang lo sayang harusnya tau kalo dia beruntung banget punya lo". Aku tersenyum padanya dan menjawab "ngga, gue lagi yang beruntung bisa sayang sama dia."

Lagi-lagi dia kaget. Dan lagi-lagi hal yang tidak kuduga dia lakukan sebelum aku sempat menyadari apa yang terjadi.

Siang teduh yang sepi di sekitar bangku pinggir danau. Aku dan dia berbagi rahasia kecil di sana. Tempat dimana aku mengakhiri hubungan berubah menjadi tempat hubungan baru berawal.

it's started with his kiss. The one that i love's kiss.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar