Kamis, 06 September 2012

Bias (ruang rindu - Letto)


Stasiun kereta. Di sinilah kita berdua duduk. Di tengah keramaian manusia yang sibuk sendiri, kita menunggu keretamu. Belajar ke Jogja katamu, seolah kota metropolitan ini tidak cukup besar untukmu tinggal dan belajar. Aku? Tentu saja aku mengamini niatmu.

Keretamu akan datang tiga puluh menit lagi. Kebersamaan kita hanya akan berlangsung tiga puluh menit lagi. Ada bagian dari dalam diriku yang terasa kosong dan menghitam, membuatku sesak tiap kali mengingat kau akan pergi. Kamu menatapku dengan tatapan lembut yang selalu kusayang. Hatiku hangat hanya dengan tatapanmu. Seketika aku ingat seberapa besar rasaku padamu. Aku tersenyum karena kamu masih disampingku sekarang. Rona khawatir pun hilang dari wajahmu. Kita bercakap-cakap sejenak, menikmati menit-menit terakhir yang kita punya. Aku ingin jadi orang yang paling membuatmu senang di menit-menit ini.

Kereta tujuan Jogja datang, aku mengantarmu sampai  di depan pintu kereta. Sebesar apapun upayaku dalam membuat menit-menit tadi menjadi saat paling berharga dalam hidupmu, kamu tetap akan melangkahkan kakimu masuk ke dalam kereta yang sebentar lagi akan membawamu pergi jauh ini. Kamu tetap pergi. Kamu tidak pernah bilang kapan kamu akan kembali. Kamu bahkan tidak pernah membahas apakah kamu akan kembali atau tidak. Kalimat terakhir yang kamu katakan adalah “aku pergi dulu”. Hanya senyummu saat mengucapkan kalimat itulah yang membuatku mampu menahan tangis dan berkata, “hati-hati”. Keretamu berangkat. Kulihat keretamu menjauh melintasi rel panjang yang tak kelihatan ujungnya. Aku menarik napas perlahan. Rasanya berat. Aku rindu.



Setiap hari aku mengingat kenangan-kenangan bersamamu. Selama dua tahun terakhir kita dekat karena selalu berada dalam kelompok belajar yang sama untuk nyaris semua mata pelajaran. Terimakasih banyak untuk orang tua kita yang memberi nama kita berdua dengan alfabet yang berdekatan, Haris dan Harum. Aku suka nama kita, membuat kita sering bersama. Aku suka saat-saat kita bersama. Aku tau aku sangat suka kenangan-kenangan itu karena mereka selalu terlihat nyata di benakku. Tatapan matamu, senyummu, sentuhanmu. Aku memang bodoh karena tidak pernah mengatakan besarnya arti kenangan itu padamu. Aku bodoh karena tidak pernah mau mengakui besarnya arti dirimu bagiku.

Saat mendengar kabar kepergianmu, aku hanya bisa terdiam tidak mengerti. Apakah jarak kita lebih jauh dari yang kuduga? Apa hubungan kita tidak sekuat yang kukira? Sampai kamu memutuskan untuk meninggalkanku di saat aku masih mencari tau apa sebenarnya arti kita berdua. Tapi begitu kamu memintaku untuk mengantarmu, aku tidak mampu marah atau bertanya apa-apa padamu. Niatmu untuk pergi begitu kuat pada saat itu. Aku tidak mengerti kenapa, tapi ditengah perasaan takut dan sepi, aku ingin mendukung niatmu. Aku ingin kamu menjalani apapun yang sudah kamu tekadkan. Aku ingin impianmu terwujud. Mungkin karena aku suka kamu. Mungkin juga karena aku suka kamu diam-diam.


Jadi, inilah kita. Terpisah tanpa sempat saling menjelaskan. Empat tahun berlalu dan selama itu aku hanya memilikimu diam-diam dalam hati dan benakku. Tiap kali aku merindukanmu, aku cukup memejamkan mataku untuk bertemu denganmu. Pertemuan yang membuatku selalu bersyukur kamu ada dalam hidupku. Cukup memejamkan mata dan kau dan kenangan-kenangan tentangmu hadir meyakinkanku bahwa cerita kita belum berakhir.

Omong-omong, hari ini aku menerima suratmu. panjang merangkum keadaanmu, membuatku bahagia. Aku pasti datang di acara wisudamu. Aku sayang kamu juga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar