Stasiun kereta. Di sinilah
kita berdua duduk. Di tengah keramaian manusia yang sibuk sendiri, kita
menunggu keretamu. Belajar ke Jogja katamu, seolah kota metropolitan ini tidak
cukup besar untukmu tinggal dan belajar. Aku? Tentu saja aku mengamini niatmu.
Keretamu akan datang
tiga puluh menit lagi. Kebersamaan kita hanya akan berlangsung tiga puluh menit
lagi. Ada bagian dari dalam diriku yang terasa kosong dan menghitam, membuatku
sesak tiap kali mengingat kau akan pergi. Kamu menatapku dengan tatapan lembut yang
selalu kusayang. Hatiku hangat hanya dengan tatapanmu. Seketika aku ingat seberapa
besar rasaku padamu. Aku tersenyum karena kamu masih disampingku sekarang. Rona
khawatir pun hilang dari wajahmu. Kita bercakap-cakap sejenak, menikmati menit-menit
terakhir yang kita punya. Aku ingin jadi orang yang paling membuatmu senang di
menit-menit ini.
Kereta tujuan Jogja
datang, aku mengantarmu sampai di depan
pintu kereta. Sebesar apapun upayaku dalam membuat menit-menit tadi menjadi saat
paling berharga dalam hidupmu, kamu tetap akan melangkahkan kakimu masuk ke
dalam kereta yang sebentar lagi akan membawamu pergi jauh ini. Kamu tetap
pergi. Kamu tidak pernah bilang kapan kamu akan kembali. Kamu bahkan tidak
pernah membahas apakah kamu akan kembali atau tidak. Kalimat terakhir yang kamu
katakan adalah “aku pergi dulu”. Hanya senyummu saat mengucapkan kalimat itulah
yang membuatku mampu menahan tangis dan berkata, “hati-hati”. Keretamu berangkat.
Kulihat keretamu menjauh melintasi rel panjang yang tak kelihatan ujungnya. Aku
menarik napas perlahan. Rasanya berat. Aku rindu.
Setiap hari aku mengingat
kenangan-kenangan bersamamu. Selama dua tahun terakhir kita dekat karena selalu
berada dalam kelompok belajar yang sama untuk nyaris semua mata pelajaran. Terimakasih
banyak untuk orang tua kita yang memberi nama kita berdua dengan alfabet yang
berdekatan, Haris dan Harum. Aku suka nama kita, membuat kita sering bersama. Aku
suka saat-saat kita bersama. Aku tau aku sangat suka kenangan-kenangan itu
karena mereka selalu terlihat nyata di benakku. Tatapan matamu, senyummu,
sentuhanmu. Aku memang bodoh karena tidak pernah mengatakan besarnya arti
kenangan itu padamu. Aku bodoh karena tidak pernah mau mengakui besarnya arti
dirimu bagiku.
Saat mendengar kabar
kepergianmu, aku hanya bisa terdiam tidak mengerti. Apakah jarak kita lebih
jauh dari yang kuduga? Apa hubungan kita tidak sekuat yang kukira? Sampai kamu memutuskan untuk meninggalkanku di saat aku masih mencari tau apa sebenarnya arti kita berdua. Tapi begitu kamu memintaku untuk
mengantarmu, aku tidak mampu marah atau bertanya apa-apa padamu. Niatmu untuk
pergi begitu kuat pada saat itu. Aku tidak mengerti kenapa, tapi ditengah perasaan
takut dan sepi, aku ingin mendukung niatmu. Aku ingin kamu menjalani apapun yang sudah kamu tekadkan. Aku ingin impianmu terwujud. Mungkin karena aku suka kamu. Mungkin juga karena aku suka kamu diam-diam.
Jadi, inilah kita. Terpisah
tanpa sempat saling menjelaskan. Empat tahun berlalu dan selama itu aku hanya
memilikimu diam-diam dalam hati dan benakku. Tiap kali aku merindukanmu, aku
cukup memejamkan mataku untuk bertemu denganmu. Pertemuan yang membuatku selalu bersyukur kamu ada dalam hidupku. Cukup memejamkan mata dan kau dan kenangan-kenangan tentangmu hadir
meyakinkanku bahwa cerita kita belum berakhir.
Omong-omong, hari ini aku
menerima suratmu. panjang merangkum keadaanmu, membuatku bahagia. Aku pasti datang di acara wisudamu. Aku sayang kamu juga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar