Rabu, 12 September 2012

Pengamen cilik (hanya satu - mocca)

Alkisah pada suatu hari yang terik, seorang pengamen cilik berkelana di kota jakarta. Ia mengamen di lampu merah, bus, dan restoran, seperti yang biasa ia lakukan.

Pengamen cilik tidak suka mengamen. Ia bahkan tidak suka bernyanyi. Apa boleh buat, nasib mengharuskan. Jatah makannya tergantung dari apa dia bisa mengumpulkan 30 ribu rupiah atau lebih setiap harinya atau tidak.

Pengamen cilik berhenti di suatu restoran dan bernyanyi. Di dalam restoran terdapat satu keluarga makmur, terdiri dari sepasang orang tua, satu anak laki-laki dan satu anak perempuan. Pengamen cilik mengamati keluarga makmur itu penuh minat. Mereka terlihat bahagia. Kenapa bahagia sekali mereka? Pengamen cilik tidak suka.

Si anak laki-laki bercerita pengalamannya di sekolah. Sang Bapak tertawa mendengar cerita anaknya salah menjawab pertanyaan guru. Si anak perempuan tidak menghabiskan makanannya. "Banyak banget porsinya, aku kan lagi diet.." Katanya saat ibunya bertanya kenapa makanannya tidak habis. Sang ibu bangga pada anak perempuannya yang menjaga bentuk badan.

Si pengamen cilik menghampiri keluarga itu dan bernyanyi. Nyanyi seadanya seperti biasa. Ia tidak menjual suara, hanya menjual tampang penuh kasihan. Sayang si keluarga makmur sedang tak minat mengkasihani. "Ngga dek.." Kata si bapak kepada pengamen cilik.

Entah mengapa pengamen cilik sebal, ia malah menyanyi lebih kencang. Suasana meja keluarga makmur jadi tidak enak. Mereka mengacuhkan si pengamen cilik. Tapi bukan pergi, pengamen cilik malah terus bernyanyi. Sang Bapak diam2 memanggil pelayan restoran dengan wajah protes. Pelayan restoran pun menarik paksa pengamen cilik keluar restoran dan memarahinya. Pelayan restoran melarang pengamen cilik masuk ke restoran itu lagi, selamanya.

Saat pelayan restoran masuk kembali ke dalam restoran, pengamen cilik mengumpulkan kekuatannya untuk bangun dan menyalip pelayan tersebut. Ia kembali ke meja keluarga makmur yang terkaget-kaget akan kehadirannya. Tanpa permisi, pengamen cilik mengambil makanan sisa di piring si anak perempuan dan memasukkannya ke dalam mulut. Si anak perempuan berteriak kaget. Semua orang dalam restoran kaget. Beberapa ada yang mendahului pihak restoran menghentikan pengemis cilik dari "tindakan brutal" dan "berbahaya". Pengamen cilik dibawa ke kantor polisi sambil diteriaki kata-kata semacam "pencuri" dan "anak gila".

Sesampainya di kantor polisi, seorang polisi menghampiri gerombolan yang mengantar paksa pengamen cilik. Para gerombolan yang awalnya sahut-sahutan meneriaki polisi untuk mengamankan pengamen cilik itu ditenangkan oleh pak polisi tersebut. Setelah mendapatkan kronologi cerita tindakan pengamen cilik, pak polisi berjanji akan mengamankan pengamen cilik dengan baik, sementara pengamen cilik hanya tertunduk diam. Percaya pada polisi, gerombolan pun pergi.

"Kamu lagi..." Kata pak polisi pasrah pada pengamen cilik setelah para gerombolan pergi. Si pengamen cilik langsung mendongak penuh cengiran.

"Kamu tetap masuk penjara satu hari. Tapi biar saya yang jaga seperti biasa. Dasar, jangan nakal lagi kamu! Mencuri itu tindakan kriminal loh!" Pak polisi memarahi pengamen cilik penuh kekhawatiran. Pengamen cilik hanya minta maaf dan memperlihatkan penyesalannya.

"Yasudah. Kamu sudah makan belum?!" Tidak ingin memperlihatkan kalau ia sudah tidak marah, pak polisi bertanya pada pengamen cilik dengan suara tinggi. Pengamen cilik menggelengkan kepala. Pak polisi pun mengajaknya makan bersama.

Ini bukan yang pertama kali. Pengamen cilik tahu besok ia akan dimarahi habis-habisan oleh om bos. Ia tahu besok ia harus bekerja puluhan kali lipat lebih keras untuk menambal kerugian hari ini. Tapi ia tidak peduli. Hanya di kantor polisi ini ia tidak merasa iri pada keluarga makmur. Hari ini, ia hanya mau keluarga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar